Showing posts with label Critical View. Show all posts
Pokemon Go: Be wise gamer!
Seminggu belakangan, publik digegerkan dg kemunculan game pokemon go. Game berbasis GPS dg tipe AR (Augmented Reality) ini amat mengguncang dunia millenia yg memang haus teknologi dan informasi. | Digadang jadi game AR yg menawarkan keasyikan bermain game, Niantic selaku vendor (developer) game tersebut menjanjikan keseruan bermain game yg berbeda. | Jika game-game biasanya cuma duduk di tempat, pergerakan tubuh hanya berpusat di tangan dan gerak mata. Maka game pokemon go tidaklah seperti itu, pokemon go menuntut player untuk bergerak dan menyusuri maps, mencari dan menangkap pokemon di lokasi yg ditunjukkan oleh maps. | Pokemon go seakan memaksa kita untuk bernostalgia dg sebuah anime jadul berjudul sama Pokemon yaitu menceritakan kisah petualangan Satoshi mengembara ke berbagai tempat dg ditemani Pikachu dan bercita-cita menjadi Pokemon Master. | Ingatan masa kecil tentang indahnya berpetualang dan mencari pokemon legendaris itu agaknya memotivasi kalangan pemuda dan orang dewasa yg rata-rata lahir di tahun 90-an.
|| Respon masyarakat pun beragam. Ada yang menyambut senang hati, ada pula yg mengecam dan melarang dg dalih macam-macam. | Tak bisa dipungkiri jika dilihat dari kaca mata yg berbeda, suatu hal bisa nampak beda. | Ada pihak yg melarang permainan ini berdasarkan tercurinya data-data negara, dikhawatirkan penyelusuran player ke berbagai tempat memungkinkan sampai pada instansi pemerintahan, dg aktifnya kamera saat bermain, mereka menduga data berupa lokasi dan tempat penemuan pokemon direkam oleh server pokemon go. | Spekulasi terjadi, istana negara dan badan pemerintahan merupakan sarang pokemon legendaris. Lalu dg tegas melalui kementrian pendayagunaan aparatur negara dan BIN melarang permainan ini dimainkan di instansi pemerintahan dan saat jam kerja. | Anggapan ini agaknya berlebihan dan sedikit ngawur. Sudah jelas sekali ada regulasi ketat tentang keamanan di instansi pemerintahan. Jika dalih keamanan data negara, seharusnya tim cyber-security yg ditingkatkan. Dan jika kekhawatiran tentang keamanan yg jadi alasan, mengapa Amerika Serikat yg jadi garda depan menyoal internet-security tak mempermasalahkannya. || Pihak lain menyebutkan khawatir dg keamanan player dikarenakan pemain dituntut fokus ke smartphone menjadikan konsentrasi buyar sepanjang jalan. | Kasus-kasus kecelakaan dan kriminalitas cukup jadi bukti pokemon go masuk kategori game berbahaya. | Anggapan diatas juga berlebihan, game itu ibarat pisau, tujuan tergantung pemakai pisau tersebut, baik/buruk sesuka hati pemegang pisau. | Pemain game yg cerdas pun seharusnya faham bagaimana bermain dg bijak. Masalahnya, pemain game yg tak memahami filosofi game sering terlena dan berlebihan dlm bermain game, biasanya pemain yg bermain krn pelampiasan dan gengsi akhirnya mengejar popularitas semata. | Pihak lain tak kalah melarang bahkan meng-haram-kan. Alasan utama krn game dpt melupakan Tuhan, menggiring pelakunya utk fokus pada kesenangan dunia dan menjadikan lalai beribadah. Alasan lain krn game tersebut merupakan misi Tatanan Dunia Baru (New World Order) oleh 'Wahyudi dan Mamarika'. | Tak aneh memang, kalangan agamawan khawatir dg kehadiran game dpt membalikkan posisi Tuhan di hadapan hamba. Tapi sejatinya, dunia memang sebuah permainan dan senda gurau. Untuk dimainkan dg benar bukan untk dipermainkan. | Jadi, bermain game sah-sah saja jika tak berlebihan. Bukankah suatu hal yg berlebihan memang tak baik.
|| Sebagai Gamer-pemain >30 judul game PC, PS&Smartphone berbagai genre game dari RPG, FPS, Open-World, Adventure, Action, dll. | Demam Pokomen Go perlu diawasi dan ditanggapi dg bijak. Boleh jadi kemunculan game ini dinantikan krn muak dg hiburan yg tak lagi menyenangkan, tengok saja sinetron semrawut, acara musik abal-abal, kartun dicekal, gosip artis yg ga mutu. | Atau boleh jadi game ini hanya merupakan hobi musiman seperti musim batu akik beberapa tahun yg lalu. | Dan boleh jadi game ini adalah generasi awal teknologi mutakhir selanjutnya. || Game Pokemon Go perlu diawasi dan ditanggapi dg bijak. Sebab sejatinya semua permainan memiliki dua sisi, baik/buruk tergantung pemain, dapat menjadi edukasi dan sarana berpikir teliti atau alat mematikan utk tindakan kriminal || A smart gamer plays game wisely. ^_^
Sebelum Nama, Sebelum Cerita (oleh Reza A.A Wattimena)
Alkisah, seorang pria sedang berjalan di pasar. | Tiba-tiba, sepotong panah datang dari kejauhan, dan menancap ke lengan kanannya. | Rasa sakit langsung menyengat lengannya, dan kemudian menyebar ke sekujur tubuhnya. Panah tersebut telah melukai tubuhnya.
| Sejenak, ia berpikir, “Mengapa ini terjadi padaku? Apa yang telah kuperbuat, sehingga aku layak menerima musibah ini? Andaikan aku istirahat di rumah, tentu saja panah itu tidak akan datang padaku. Bagaimana jika lenganku cacat, dan nanti tubuhku tak sempurna lagi, sehingga para wanita akan meninggalkanku?” | Inilah “panah kedua” yang melukai pikirannya.
|| Sakit dan Penderitaan ||
Panah pertama menciptakan rasa sakit pada tubuh. Sementara, “panah kedua” melukai batinnya, atau pikirannya. | Sakit tubuh akan segera lenyap, ketika diberi obat. Sementara, sakit pikiran akan berjalan terus, walaupun sakit tubuh sudah lenyap. | Sakit pikiran menciptakan penderitaan.
| Panah pertama adalah fakta kehidupan. | Banyak hal terjadi, tanpa alasan yang jelas. Orang yang rajin berolahraga dan berdiet tiba-tiba meninggal, karena serangan jantung. | Orang yang rajin bekerja dan jujur justru kehilangan pekerjaan dan terhambat karirnya.
| Panah kedua adalah cerita yang kita bangun di dalam pikiran kita. Segala bentuk analisis dan penamaan adalah bagian dari cerita tersebut. | Ketika kita mulai memberi nama pada pengalaman kita, misalnya pengalaman sial, kita sudah mulai untuk membuat cerita. | Nama lalu berlanjut pada analisis dan spekulasi yang seringkali menciptakan penderitaan batin yang besar.
|| Bukan Kenyataan ||
Penamaan semacam ini bukanlah sesuatu yang alamiah. Ia adalah bentukan sosial. | Kata “pengalaman sial” adalah penilaian kita adalah sebuah peristiwa yang menimpa kita, begitu juga dengan kata pengalaman baik, pengalaman untung, pengalaman sedih, pengalaman traumatis dan sebagainya. | Semua adalah penilaian dari pikiran kita, dan setiap penilaian adalah hasil dari pola pikir kita yang dibentuk oleh pola hidup kita di masa lalu dalam hubungan dengan keluarga dan masyarakat. | Ia bukanlah kenyataan yang sesungguhnya.
| Apa buktinya? Buktinya adalah bahwa setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-beda, tergantung pola hidupnya. | Bagi beberapa orang, merokok adalah tindakan biasa, dan bahkan membantu pergaulan. | Bagi beberapa orang lainnya, merokok adalah tindakan biadab yang tidak hanya merusak kesehatan di perokok, tetapi juga orang-orang sekitarnya. | Penilaian-penilaian semacam ini muncul dari latar belakang yang berbeda-beda dari si penilai.
| Maka, nama bukanlah kenyataan. Pohon tidak pernah bilang, bahwa dirinya adalah pohon. Apel pun juga demikian. | Kata pohon dan apel adalah buatan manusia, dan hanya berlaku untuk manusia. | Sebenarnya, kedua benda itu tidaklah memiliki nama.
|| Rantai Sebab Akibat ||
Memberi nama adalah awal dari cerita yang kita rangkai atas peristiwa yang terjadi pada kita. | Membangun cerita adalah awal dari analisis dan spekulasi yang berlebihan. | Analisis dan spekulasi adalah awal dari penderitaan batin yang sebenarnya tak perlu terjadi. | Penderitaan batin adalah awal dari kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang ataupun mahluk lain.
| Di dalam kehidupan, memberi nama pada pengalaman kerap kali diperlukan untuk memahami pengalaman tersebut. | Namun, tindakan ini harus terus disertai dengan kesadaran, bahwa penamaan itu bersifat relatif, rapuh dan terus berubah. | Maka, orang tidak boleh melekat dengan nama dengan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran mutlak. | Memberi nama pada apa yang kita alami adalah sebuah pilihan, dan bukan keniscayaan.
| Di dalam hidup, kita tidak bisa menghindari luka. Rasa sakit pun tak bisa dihindari. Akan tetapi, kita selalu bisa menghindari penderitaan dengan tidak memberi cerita dan nama pada luka yang kita alami. | Dengan kata lain, panah pertama tidak bisa dihindari. | Sementara, panah kedua merupakan pilihan kita.
|| Dikutip dari: rumahfilsafat.com/2016/07/11/sebelum-nama-sebelum-cerita/
Do I really want to be?
Sometimes, i want this country to be like those are, strong like America, discipline like Japan, great like England, and clean like New Zealand.
| But, do i really want to be like those country? which the society work on full day, buy a house for their servant, eat as fast as possible, even go insane with stress fill the brain.
|| Whereas this country, smile is still seen in everywhere, laugh is still heared in every place, and togetherness is still related among people.
Do i really want to be like those country?
Kalijodo: Sebuah kenyataan pahit yang manis (sebuah catatan 25 Februari pukul 02:37)
2 minggu lebih, isu ibukota lagi" membanjiri berita. Penggusuran kawasan kalijodo menuai pro-kontra deras. Dari pihak Pemda yg berniat mengalih-fungsi, Gubernur yg bersikeras mempercantik, masyarakat sekitar yg sudah tinggal menetap lama, pelanggan yg dirugikan, bahkan sang penguasa pun turun gunung.
| Kawasan tersebut memang terkenal jadi lokalisasi. Padanan kata negatif dlm kaca mata publik sebagai tempat kemaksiatan, dosa-dosa diperjual-belikan dan markas kejahatan. Tempat dimana pekerja dan pelanggan saling 'tukar' keuntungan dan kenikmatan. Tempat dimana asusila dilegalkan dg lembaran-lembaran uang.
| Tak hanya ibukota, tempat serupa juga ada di beberapa kota, bahkan sampai bertaraf internasional-gang d***y, s***t*m. Yang paling dekat dg Ts, SK kota smg.
| Ada sebuah paradoks pertanyaan. Kenapa jelas-jelas tempat keburukan dibiarkan? Apa pemerintah tutup mata? Mana pemuka agama yg sering berkoar tentang syurga&neraka? Pasti, pasti pertanyaan" diatas dilontarkan. | Pertanyaan pun makin meruncing apabila menyangkut agama. Seakan-akan menghalalkan keharaman yg jelas.
Namun, perlu kita fahami juga sudut pandang mereka, sebagai korban, pelanggan, 'backingan' bahkan sang empu kekuasaan. | - Bagi si korban, tak ada jalan lain, Buntu. Bukan tak ingin menjalani hidup normal, tersenyum tulus dan bebas menentukan nasib diri. Tapi ada ratusan alasan ia tak bisa pergi, ada jerat teramat kuat mengekang sendi-sendi tubuh. Benar-benar tak ada jalan lain, kecuali satu hal yaitu org luar biasa membebaskannya. | Percayalah, ada tangis mengiris disudut tembok kawasan tersebut, ada catatan pilu tentang harapan-harapan mereka utk bebas. | Masalah besarnya adl sikap sok suci. Merasa dirinya bersih, memandang si korban tak ubahnya sampah yg memang sepantasnya begitu. Memukul rata gudang maksiat dan dosa sebagai neraka dunia, jangan didekati, ga usahlah diurusi, masa bodoh. Padahal dlm neraka tersebut, banyak yg ingin berbuat benar dan masuk syurga. Tapi bagaimana bisa masuk syurga, banyak org yg sok suci sdh menutup mata, memandang jijik.
| - bagi si pelanggan, kawasan tersebut sdh jadi tempat pelampiasan kebutuhan. Tentu para pekerja professional dan ahli dlm 'bidangnya', apalagi jika mulus dan masih segar. Cukup rogoh kocek sekian bisa ajak semaunya. Masa bodoh penyakit dan dosa. Yang ia tahu, punya uang bisa beli semuanya.
| - si backingan, rugi besar mangsa besar lepas. Pundi uang mengalir harus dipertahankan. Tak bisa dipungkiri, pihak ini berdampak besar pada eksistensi sebuah tempat. Oknum bermasalah pun banyak berkecimpung dlm hal ini. Kekuasaan yg ia pegang bisa digunakan mengamankan kawasan tersebut, lebih tepatnya disalahgunakan.
| Terakhir si empu kekuasaan. Uang, kemewahan, pesta, ditakuti orang dan segalanya tersedia. Cukup jadi alasan mengapa ia bertahan. Sungguh gila-baginya, jika kejayaan hancur begitu saja tanpa mati-matian memperjuangkan.
| The Equalizer (2014), adl sebuah cermin kehidupan jerat 'neraka' kawasan tersebut. Diceritakan, Teri (Alina) adl si-korban yg diperlakukan semena-mena, dipukul bahkan wajahnya disiram air raksa. Frank jadi 'backing' kegiatan dan Pushkin sebagai kepala ular, gembong. Serta, peran utama Robert McCall adl org luar biasa. | Krn nasib Alina yg menyedihkan, McCall menyelamatkannya dg cara yg sangat 'hebat'. Dari ujung sampai pangkal. Batang sampai akar. Begitulah, paradoks kehidupan berlaku pada kawasan tersebut.
| Sebuah kenyataan pahit. Manusia diperlakukan bak hewan mungkin lebih buruk, dipelihara, diberi makan, dipenuhi kebutuhan pokok, tapi kebebasan hanyalah mimpi dan angan-angan.
| Sebuah hal manis bagi mereka yg menikmati hasil jerih-payah, tangisan dan penderitaan.
~~~~~
Satu hal, siapakah org luar biasa yg dpt meluruskan benang kusut bahkan sampai bisa mengganti benang kusut menjadi benang baru yg lebih indah?
Gerhana: Fenomena atau Euforia (Sebuah catatan 5 Maret pukul 16:53)
Digadang menjadi fenomena langka dekade ini, beberapa wilayah Indonesia seperti mentawai, palembang, bangka belitung, dll akan menyaksikan gerhana matahari total.
| Sedangkan, daerah lain seperti Jawa Tengah, khususnya Semarang kemungkinan hanya dapat melihat gerhana penuh, berkisar 80%. | Ahli Falak Bondet, Mr.Bean mengungkapkan: Gerhana muncul pada tanggal 09 Maret 2016 sekitar jam 06:24-08.25 WIB. Puncaknya pada 07.24 WIB dalam rentang waktu 5 menit. | Sejarah mencatat Indonesia pernah dilalui gerhana pada masa orba, namun kegaduhan politik menyebabkan propaganda keliru bahwa gerhana berstatus bahaya. | Memang benar,imbuh Mr.Bean, paparan cahaya mendadak saat bulan bergeser yg menandakan berakhirnya gerhana amat beresiko, intensitas cahaya besar yg diterima pupil secara mendadak bisa berakibat fatal, krn pembesaran pupil saat gerhana matahari (gelap-red) akan merusak mata ketika cahaya matahari tiba-tiba bersinar. | Hal ini dpt disiasati dg memakai kaca mata anti-radiasi. Jadi, gerhana berbahaya bkn dlm konteks proses gerhana selama 5 menit tersebut. | Melainkan, paparan cahaya mendadak saat pergeseran bulan pada matahari. | Euforia gerhana disikapi berbeda-beda. Pihak pariwisita memanfaatkannya sebagai ladang bisnis menjanjikan, tempat-tempat yg dilewati gerhana pun disiapkan dg apik. Para peneliti antariksa melihatnya sebagai inspirasi riset&pembuktian hipotesis-hipotesis yg telah digelutinya. Sedangkan kebanyakan orang menganggapnya fenomena alam luar biasa, patut disaksikan serta sayang untuk dilewatkan. | Selanjutnya, Mursyid Thoriqoh (Dholalah-red) Bondetiyyah, Syekh Irfan Addimaqiy menghimbau para jama'ah, kaum muslim yg terbiasa molor pagi hari utk menunaikan shalat gerhana. Tentang tata cara, syarat&rukun, beliau berujar:"cek google wahai anak muda !" | Ia menambahkan, gerhana adl nikmat besar dari Allah SWT, jangan sia-siakan momen berharga sepersekian menit tersebut dalam lelap, amatlah merugi. | Gerhana mengajarkan kita tentang kenikmatan&kesengsaraan di dunia hanyalah sementara, maka hargailah dg ibadah tekun serta tawakkal penuh pada sang pencipta. | Kenikmatan kita berupa hidup berkecukupan dpt makan&minum enak, ngobrol hangat, ngegame COC, nonton film aksi, melo korea, humor thailand serta anime hen*ai jepang (ily** detected) adl nikmat yg sementara. | Ibarat makan, rasa sebuah hidangan hanya akan terasa saat di mulut, tak lebih. Begitupun, kesusahan dan kesedihan terjadi hanya sementara, bukankah kegelapan sebuah gerhana hanya berkisar beberapa menit.
~~~~~ Maka tenanglah dan mendekatlah pada Allah.
* Ustadz
Mengenal Diri: Konsep diri ala Pak Subhan Vs Jackie Chan
Siapa saya? Who am I? | Dua kata tersebut agaknya sederhana dan pertanyaan standar bagi sebagian orang, tetapi bagiku pertanyaan diatas sarat makna dan penuh dinamika internal psikologi dan filsafat | Pertanyaan yg muncul sebagai hasil pengembaraan intelektualitas dan spiritualitas. Sebuah keresahan hati mempertanyakan eksistensi diri sendiri yg ikut menjadi bagian dari dunia dan alam semesta | Aku punya cerita tersendiri mengenai dua kalimat itu. ¤ Pertama, Siapa saya? adalah pertanyaan teoritis dari Pak Subkhan-Guru BK&KepSek MA Nurul Islam Jepara- beliau mengajarkan dasar-dasar psikologi analisis yg saat itu dikenal dg BK (Bimbingan Konseling). Sebenarnya BK bukan pelajaran inti sekolah, tetapi peran BK dlm membimbing dan mengembangkan pola pikir siswa menjadikan BK mata pelajaran tambahan yg memiliki akar kuat di hati para siswa-siswi | Beliau berujar- sekitar 5 tahun yg lalu-bahwa kita perlu mengenal diri agar tak tersesat dan dapat memposisikan peran yg tepat di hidup kita. Dalam keseharian kita, kita memiliki status diri seperti sebagai anak, murid, pengendara, pejalan kaki, remaja, konsumen, pendengar, makmum, dll | Apa yg kalian lakukan ketika berada di posisi tersebut? Ya, berperan dg tepat. Sebagai anak, kita berbakti pada orang tua. Sebagai murid, kita belajar rajin dan mematuhi guru. Sebagai pengendara, kita taat regulasi dan norma-norma di jalanan. Sebagai pejalan kaki, kita melaju di tempat yg seharusnya dan beretika. Dan lain sebagainya | Beliau melanjutkan, kita hidup perlu mengenal diri agar memahami apa orientasi hidup. Hidup? Bagaimana menurut kalian, menghabiskan waktu? Berbagagia? Berfoya-foya? Berprestasi? Masuk syurga? | Segera kenali diri kalian dan temukan orientasi hidup kalian !
¤ Cerita kedua, Who Am I? adl Film, ya film jadul yg mengisahkan tokoh utama-Jackie Chan, sebagai seorang elit militer diberikan misi di tengah hutan Afrika untuk 'mengamankan' 3 Ilmuwan yg disinyalir bersindikat dg organisasi kriminal internasional. Misi berhasil, mereka-regu penyalamat Ilmuwan- pulang dg helikopter dg suka-cita, berkenalan dg bangga dari berbagai negara. Di tengah perjalanan, helikopter oleng dan menewaskan seluruh penumpang kecuali Jackie Chan. Karena sebelum helikopter tumbang, Jackie Chan diselamatkan teman-temannya dan nyawanya tertolong dg tergantung di pohon. Sayangnya dia amnesia, lupa jati diri, siapa sebenarnya dia dan bagaimana bisa sampai di Afrika | Cerita berlanjut seru dan menegangkan, pertarungan epik tanpa stunt-man patut diacungi jembol ditambah skenario keren | Bukan, ini bukan resensi film. Tetapi, film tersebut mengajarkan satu hal penting mengenai jati diri, siapa kita? dg mencari dan mencari tentang jati diri kita sebenarnya, pastinya itu takkan mudah.
~~~~~
Begitulah, kita memang perlu mengenal diri dalam rangka mengetahui untuk apa dan bagaimana kita hidup di dunia. Pertanyaan yg amat sederhana tapi melahirkan kompleksitas pemahaman dan sudut pandang beraneka. Pertanyaan yg sama diutarakan para filsuf ternama: Aristoteles, Plato, Rene Descartes ini perlu direnungkan | Siapa saya? Mengapa saya ada? Bagaimana saya ada? Untuk apa? | Mari mengenal diri ! ^_^
Arabisasi Nusantara?
Mengkloning Gerakan Perempuan Berkebaya (Sumanto Al Qurtuby)
Gelombang arabisasi yang dibungkus Islamisasi di Indonesia sejak beberapa tahun silam telah berdampak pada banyak hal antara lain pandangan mengenai "tata busana". Baru beberapa tahun ini saja, umat Islam pada geger bin ribut soal tata cara berpakaian yang "Islami" atau yang "syar'i".
Padahal, dulu tidak ada yang meributkan. Biasa-biasa saja. Para ulama hebat di Indonesia dulu tidak pernah meributkan soal "busana Islami" apalagi "hijab syar'i". Kenapa begitu? Karena memang mereka menganggap semua itu tidak penting dan tidak substansial. Yang penting dan substansial, menurut mereka, adalah menutup aurat. Baru belakangan ini saja, setelah munculnya para ustad unyu-unyu itu, masalah "tata busana Islami/syar'i" ini menjadi marak diperbincangkan.
Sebagian kaum Muslim pun, baik laki maupun perempuan, ramai-ramai ikut-ikutan mengenakan "hijab syar'i" dan "pakaian Nabi". Tidak sebatas itu saja. Mereka bahkan mengolok-olok semua jenis busana tradisional atau pakaian adat Nusantara warisan leluhur yang mereka anggap "tidak Islami", "tidak syar'i", "tidak surgawi" dan seterusnya.
Didorong oleh rasa keprihatinan mendalam khususnya atas maraknya gerakan "hijabisasi masyarakat" inilah, sekelompok perempuan di Jogja "mendeklarasikan" sebuah aksi atau gerakan "Perempuan Berkebaya" yang kini bukan hanya di Jogja saja tetapi juga di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jawa. Mereka bukan hanya berwacana tetapi juga berkebaya kemana-mana di tempat-tempat publik sehingga menarik perhatian banyak pihak.
Memang agak aneh sebetulnya jika ada orang merasa aneh dengan warisan tradisi dan budayanya sendiri. Tapi itulah sebagian fakta sosial di masyarakat kita. Karena hijab dan jubah sudah menjadi semacam "industri agama" yang berskala transnasional dan ditopang oleh berbagai kelompok lapisan masyarakat yang berkepentingan:politisi, dai, birokrat, pengusaha pakaian, dlsb, maka berbagai jenis pakaian adat-tradisional yang berskala lokal menjadi terancam eksistensinya. Ibaratnya, pakaian adat-tradisional itu seperti "home industry" yang sedang menghadapi gempuran hijab dan jubah sebagai "multinational corporation".
Dalam konteks inilah, gerakan "Perempuan Berkebaya Jogja" hadir yang bukan hanya sebagai "kritik wacana" atau "kritik sosial" atau "perlawanan budaya" semata atas "hegemoni hijab" atau dominasi "pakaian Arab", melainkan sebagai bagian dari upaya untuk "mengingatkan publik" agar mau merawat atau melestarikan warisan tradisi dan kebudayaannya sendiri. Sebuah usaha yang tentu saja patut diapresiasi. Jika tidak diingatkan dan diantisipasi sejak dini, maka generasi yang akan datang akan menganggap "antik" dengan pakaian adatnya sendiri.
Apa yang telah dilakukan oleh kelompok "Perempuan Berkebaya Jogja" ini tentu saja perlu "dikloning" oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Perlu ada gerakan-gerakanserupa sesuai dengan pakaian adat-tradisional masing-masing daerah: baju bodo di Bugis, baju cele di Maluku, nggembe di Sulawesi Tengah, sarung sutra mandar di Sulawesi Barat, pesa'an di Madura, ulos di Sumatra Utara dan seterusnya. Di Arab Saudi sendiri, pakaian-pakaianadat-tradisional khas masing-masing suku yang beraneka ragam mulai punah digerus oleh "pakaian Barat" maupun "pakaian Saudi". Jangan sampai hal itu terjadi di negara Indonesia yang kita cintai...
-----
Nusantara tetaplah nusantara. Indonesia bukan Arab atau Timur Tengah sana. Berdalih agama mereka utarakan. Hal normatif dan substansial dilupakan.
Kultum: La Takul Kadzalik
Segala puji hanya bagi-Mu ya Rabbi
Atas segala nikmat yang terberi
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah padamu ya Sayyidi
Menaugi umat-mu yang shaleh laksana jiwa bersih nan suci
Para jama’ah yang dirahmati Allah
Biarkan saya berkisah,
Pada suatu ketika,
Abib kecil, seorang anak SD kelas 5 merasa heran akan perilaku orang-orang
dewasa, ia penasaran dengan tingkah laku mereka terlebih dari cara bertutur.
Banyak ia temui orang-orang yang tak segan-segan berkata kotor (saru). Entah
dapat dari mana kata-kata itu, pikir Abib kecil. Dari preman pasar, jalanan,
dan kebun binatang. Lebih parah, bahkan
teman sebaya pun ikut-ikutan.
Entah kenapa Abib
kecil merasa sangat ingin tahu, kenapa?
Walaupun Abib
kecil tak tahu banyak tentang kata kotor (saru), namun ia faham kata-kata itu
digunakan untuk apa. Lantas rasa penasaran itu semakin besar, karena ia tak
temukan jawaban selang beberapa hari, ia pun berniat untuk mencobanya sendiri,
“Kenapa sih
orang-orang dewasa mudah mengatakan kata-kata kotor (saru)? Gimana ya rasanya?”
fikirnya dalam hati
Pagi hari, disaat
Abib kecil sekolah tepat setelah bel berbunyi istirahat. Lalu, ia bermain
kejar-kejaran dengan teman sekelasnya, ya bermain kejar-kejaran. Maklumlah,
pula permainan itu paling asyik baginya. Manakala temannya jadi pengejar,
mereka pun berlari kencang, menyebar di daerah yang mereka telah sepakati.
Lari, lari, dan lari. Agar tidak tertangkap.
Dan, tiba-tiba tak
sengaja
“Brukk..” Abib
kecil dan temannya bertabrakan.
Agak marah Abib
kecil sedikit kesal,
“Kamu gimana sih,
AS*?” dan secara sengaja ia mengatakannya
Kagetlah 3
temannya yang mendengarkan kata itu, sedang yang lain tetap lari serta tak
peduli
“Hay bib..” ingat
temannya.
Abib kecil pun
hanya diam terpaku. Dan seketika ada perasaan aneh yang terkecap di lisannya,
pikiran, dan hatinya. Bukan mendapat jawaban malah menambah hal yang membuatnya
penasaran. Pertama, tata bertutur orang-orang dewasa dengan kata-kata kotor
(saru), kedua manakala ia coba langsung ada perasaan aneh lagi.
Tahun demi tahun
berlalu, dan sekarang Abib kecil telah tumbuh menjadi seorang remaja. Namun
semenjak kejadian hari itu, kelas 5 SD. Ia tak lupa akan kenangan aneh yang
pernah dilakukannya serta ia tak pernah melakukannya lagi. Seraya ia terus
mencari jawaban, yang belum ia temukan. Manakala ia belajar di pondok, barulah
ia mengerti mengapa?
(Hadits) Manakala
kebaikan membahagiakanmu, dan keburukan menyusahkanmu, kaulah orang yang
beriman (HR. Dhiya’ dari Abi Umamah)
Kini, Abib besar
telah tahu mengapa ia merasa aneh saat bertutur kata kotor jauh di tahun yang
lalu.
Begitulah kisah
Abib kecil dan Kata kotornya, dari kisah di atas dapat di ambil ibrah,
Ketika kita berbuat suatu hal,
apapun itu. Tanyalah kedalam hati. Apakah kebaikan yang telah saya lakukan
mendamaikan saya? Dan keburukan yang saya lakukan menyusahkan saya?
Ketika kita di rumah,
susahkah kita memarahi, membangkang ibu dan bapak? Saat di sekolah, susahkah
kita mendapat nilai bagus tapi hasil mencontek? Saat bapak bangun tengah malam,
susahkah anda meninggalkan shalat malam?, namun asyik menonton pertandingan
bola 2×45 menit, sedangkan shalat malam hanya sekitar 10 menit. Saat ibu, ngrasani
tetangga, susahkah anda?
Dan ini sering terjadi, ketika kita
membiarkan panggilan adzan, susahkah kita? Dengan kata tunggu ya, Saat kita
meninggalkan shalat, susahkah kita? Dan terakhir, Saat di majlis tarawih ini,
berbaris dalam shaf-shaf, menghidupkan malam bulan ramadhan yang indah,
bahagiakah kita? Atau mungkin lebih senang menonton GGS, CHSI?
Saat itu pulalah, tanyalah dalam
hati seberapa berat takaran iman kita. Adakah kebaikan mendamaikan, atau
menyusahkan? Syekh ibnu Atha’illah berkata:
Di antara tanda matinya hati adalah
tidak adanya perasaan bersalah atas dosa yang kau lakukan, dan perasaan
menyesal atas kesempatan beramal yang kau lewatkan.
Sekian sekelumit kisah yang bisa
saya sampaikan, semoga dengannya kita menjadi pribadi yang beriman, di bulan
ramadhan yang tercurah rahmat dan ampunan.
Gemericik riaknya alpha, terbasahi
istighfar dan shalawat.
Violence Case in Education Area: Who Responsible?
Violence Case
in Education Area
Who
Responsible?
Issues:
In 2014,
Indonesian Children Protection Commission (KPAI) accepted more than 600
children violence cases, and more than 200 cases occurred in school or
education environment. Whereas School, properly being safe place on children
growing up and developing attitude, nowadays being a thriving “bullying”
atmosphere instead. Ironically, student not only becomes a victim but also they
become a performer. Therefore, who will responsible on this case? Education and
Culture Ministry? School? Teacher? Or that student as performer?
Description:
Again, publics
are surprised by the spread of children violence video in social media,
youtube. In that video shows there is student crying in the classroom corner
which is attacked by more than 7 students. They fist, kick, even run fast in
order to beat hard. As mentioned by the teacher of SD Bukittinggi, West
Sumatera, it happened in middle class of religion, when the teacher goes to the
office and some students anger because they put the bite on student but she reject
it. Then they are “bullying” her by some “treatments”.
Perceived from
the news, Education and Culture Minister (Kemendikbud) M. Nuh said that he will
take action against the school and teacher. Then, he stated the function of
K-13 to avoid such violence, because student is taught character building. Whereas,
Indonesian Children Protection Commission (KPAI) deplore teacher dereliction
which can’t save and protect the students.
“Bully” is an
action to disturb and annoy to others, especially the weak one. It can be mocking,
laughing, even physical as violence. As mentioned by the author of Bencana
Sekolah said violence occurred because some students are envy or feel strong among
the others. They want to get interest from teacher or friend and most of them
are not clever student. Just like Mario Teguh stated “bully” is invisible,
oftentimes it happened in all school and student as victims will show the
different behavior in their daily, they will be shame and stolid.
In fact, the
influence of violence will affect the victims indeed. In psychological, they
will keep away from the friend, be alone, and be afraid. Moreover, when it
occurs in physical treatment cause a wounds and injuries. Although the
psychological wound is harder to heal, also physical violent is not simply to
ignore it. Therefore, when the violence had happened, as the milk had spilled,
then restraining such incident becomes responsibility for all people without
taking blame in one part only.