Showing posts with label My Identity. Show all posts
Mari mengenal lebih dalam! (Sebuah nama)
Namaku luthfi, biasa dipanggil mas, kak, abang, pak, gus, ustadz, kyai, mbah, syekh dsb. Begitulah mereka memanggilku, mesti ada embel-embel yg melekat sebelum nama asliku dipanggil | Aku tak memusingkan bagaimana mereka memanggilku, meski seringkali aku tersenyum dalam hati | Usia masih muda, jalan masih tegap, wajah segar tak ada keriput. Kog bisa-bisanya dipanggil pak dan mbah bahkan yg keterlaluan adalah Syekh | Anehnya panggilan tersebut aku dengar dg jelas ketika masih duduk di MTs/SMP, sekitar usia 13 tahun. Bayangkan dlm masa Puber sudah dipanggil mbah ! Lucu sekali rasanya || Aku sama sekali tak memusingkan seperti apa mereka memanggilku, sebab mereka yg menghendakinya. Toh, tak ada untung-ruginya bagiku. Beda cerita ketika panggilan tersebut bermaksud negatif berupa merendahkan dan menjelek-jelekkan | Memang, kadangkala risih dg berbagai atribut panggilan yg rasa-rasanya kurang pantas melekat, semisal dipanggil Pak Kyai. Yah, malu campur sedih menyatu | Bagaimana mungkin aku yg seperti ini, biasa-biasa saja menurutku, bisa dipanggil Kyai. Kapasitas keilmuan masih dangkal. Integritas spiritual tak seberapa. Kog bisa? | Mereka mengatakan bahwa aku sudah memiliki level kyai dan pantas dipanggil kyai. Bisa baca kitab kuning, hafal dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis, faham Fiqh dan bahasa Arab, berwibawa, cerdas dan santun. Sangat pantas kamu dipanggil kyai, kata mereka | Lain lagi sekarang, saat kuliah, mereka sering memanggilku pak, gus atau ustadz. Pak, panggilan akrab di kelas. Gus, panggilan teman beda kelas. Ustadz, atribut baru di Kos-an | Yah, Pak, masih mending dan bisa diterima, karena lingkungan Tarbiyah (pendidikan a.k.a guru) panggilan Pak/Bu sangat wajar. Sedangkan Gus atau Ustadz? Aku kaget dan gagap menanggapinya | Aku orang biasa yg dilahirkan dlm keluarga biasa. Meskipun memang, orang tuaku luar biasa , aku tak ingin berlindung di bayang-bayang mereka. Aku ingin menjadi orang luar biasa dg caraku sendiri | Hm, ustadz memang terdengar modern dan keren. Terminologi yg biasanya berlaku di Perkotaan. Padahal aku mengukur diri tak pantas juga dipanggil seperti itu | Ya, mungkin aku lebih tahu dan faham, itu saja. Tahu teori&praktis agama, faham sudut pandang&keilmuan beraneka ragam, cuma itu ||
Persoalan atribut nama, aku sama sekali memusingkannya. Toh, yg kita perlukan adl pembuktian dan aksi nyata atas kepercayaan mereka | Memang, aku masih muda, tapi bagi mereka aku dituakan dan menjadi tetua. Dalam Al-Hikam disebut fenomena 'waridat', lain cerita dlm Sociolinguistics disebut fenomena 'power&solidarity' || Sejauh ingatanku, hanya beberapa orang yg memanggil namaku secara langsung, aku lebih senang begitu, seharusnya | Mereka spesial dg caranya memanggilku, tak perlu ada jarak antara mereka dan aku | Lebih spesial lagi orang yg memanggilku 'oppa', say, papi. Sangking dekatnya sampai muncul panggilan mesra, meskipun tak ada hubungan istimewa yg biasa disebut pacar | Mereka amat istimewa dan kadang ada perasaan ingin menjadikan mereka orang istimewa seutuhnya ||
Begitulah namaku. Luthfi yg berarti lemah-lembut, memang cocok dg sifat bawaanku yg kalem dan halus | Sifat kalem yg-katanya-bahkan melebihi perempuan normal | Bagaimana tidak halus, suara normalku saja tidak terdengar padahal hanya berjarak 1 meter dg si pendengar. Makan tak kunjung selesai-selesai padahal porsi normal, sedang bersamaan dg adikku yg makan sudah selesai | Nama adl Do'a, memang benar menurutku. Nama yg diberikan oleh orang tua, sejatinya adl sebuah pengharapan bahwa kelak ia akan seperti do'a-do'a yg disematkan dlm nama itu | Entah bagaimana dg kalian? ||
^_^ Namaku Luthfi, panggil saja sesuka hati.