Posted by : Unknown Monday, June 15, 2015


Begawan Cipto Wening
Nasib Pandawa Lima dan Akhir Kerajaan Astina
            Ki Warseno Slank, M.Si berujar setelah perang besar Baratayudha berakhir dengan kemenangan telak di pihak Pendawa lima, maka mereka pun boyongan kembali ke singgasana kerajaan Astina pura. Saat itu seluruh Korawa yang berjumlah 100 orang sudah tamat riwayatnya tewas dalam perang besar tersebut. Mereka sebagai simbol angkara murka/ketamakan. Sedangkan Pendawa lima sebagai simbol kebaikan/keutamaan tetap utuh lima. Saat itu para pendawa lima sudah mulai memasuki usia senja. Habis perang bukannya mereka pesta pora merayakan kemenangan, tetapi malah prihatin bahkan menagis dalam hati, karena seluruh anak-anak pendawa gugur dalam perang besar itu. Padahal merekalah yang diharapkan sebagai penerus dan pewaris negara astina yang luas sekali wilayahnya.

Ketika mereka dalam suatu pertemuan dan membahas masalah masa depan negara tersebut, dan dalam puncak kesedihannya, maka Kresna sebagai konsultan Pandawa mengingatkan bahwa itu semua sudah kodrat yang memang harus terjadi. Ia menceritakan ulang peristiwa ketika Harjuna dengan gelar Begawan Cipto Wening sedang bertapa, kemudian didatangi oleh Dewa Bethara Guru dan Narada. Saat itu ke dua Dewa tersebut menawarkan kepada Harjuna untuk minta apa saja dan akan dituruti/dikabulkan semuanya.
Maka saat itu Harjuna sebagai ksatria pinadhita minta TIGA HAL:
1.      Pendawa menang dalam Perang Baratayudha
2.      Pendawa UTUH LIMA, tidak ada yang gugur dalam perang itu.
3.      Kerajaan astina pura kembali ke tangan Pendawa
Ketika tiga hal itu selesai disampaikan, maka kedua dhewa tersebut masih menwarkan, apa masih ada permintaan lain lagi, sampai 3 kali. Harjuna menjawab: tidak, cukup tiga itu saja. Kemudian ke dua Dhewa tersebut kembali ke Kahyangan. Saat itu sontak Semar menjerit menangis, mengapa Harjuna tidak minta agar seluruh anak-anak pendawa selamat dan utuh semua. padahal kesempatan minta selalu ditawarkan. Tetapi malah Harjuna tanya kepada Semar, apakah kelak anak-anak Pandawa pada gugur di dalam perang baratayudha. Maka Semar pun malah tambah menagis, mengapa Harjuna tanya itu, padahal ia baru saja bertapa yang ucapannya pasti akan terwujud.
Dengan crita itu, maka sadarlah para Pandawa tentang kodrat kehidupan yang pasti terjadi sebagai mana dimaksud Kresna di depan. Maka setelah itu, kemudian tahta kerajaan Astina diserahkan kepada seorang bayi kecil Parikesit bin Abimanyu bin Harjuna. Dan tamatlah kisah keluhuran dan kedigdayaan pandawa lima, karena tidak mempersiapkan kader-kader penerus negara secara sistematis. Ternyata Pendawa lima hebat untuk diri mereka sendiri saja dan hanya untuk jamannya saja (tidak bervisi jauh pada anak turunnya ke depan sebagai penerus perjuangan). Tragis!
Tapi apa pun, Pandawa lima masih sangat beruntung karena sebagai tokoh-tokoh keutamaan, nama para tokohnya banyak dipakai sebagai simbol-simbol kebajikan, motto, cerita-cerita heroik, nama jalan, bahkan di kota Salatiga untuk nama masjid, nama toko-toko emas di berbagai kota, dll. sedangkan Korawa, karena sukanya hanya bergelimang kesenangan dan menuruti hawa nafsu, maka tidak ada yang mau memakai namanya untuk hal-hal yang bernilai baik.
Dari kisah diatas dapat diambil hikmah dan pelajaran, bahwa perlu ada penerus yang dapat mengemban tugas serta tanggung jawab dalam mengembangkan suatu urusan, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Serta perlu adanya kaderisasi umat agar masyarakat bahkan negara tak hilang setelah zaman keemasan yang dibangun oleh para pendahulu dengan kerja keras dan usaha mati-matian.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2025 The Pieces of My Life - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -