- Back to Home »
- Critical View »
- Kultum: La Takul Kadzalik
Posted by : Unknown
Saturday, April 11, 2015
Segala puji hanya bagi-Mu ya Rabbi
Atas segala nikmat yang terberi
Shalawat dan salam semoga tetap tercurah padamu ya Sayyidi
Menaugi umat-mu yang shaleh laksana jiwa bersih nan suci
Para jama’ah yang dirahmati Allah
Biarkan saya berkisah,
Pada suatu ketika,
Abib kecil, seorang anak SD kelas 5 merasa heran akan perilaku orang-orang
dewasa, ia penasaran dengan tingkah laku mereka terlebih dari cara bertutur.
Banyak ia temui orang-orang yang tak segan-segan berkata kotor (saru). Entah
dapat dari mana kata-kata itu, pikir Abib kecil. Dari preman pasar, jalanan,
dan kebun binatang. Lebih parah, bahkan
teman sebaya pun ikut-ikutan.
Entah kenapa Abib
kecil merasa sangat ingin tahu, kenapa?
Walaupun Abib
kecil tak tahu banyak tentang kata kotor (saru), namun ia faham kata-kata itu
digunakan untuk apa. Lantas rasa penasaran itu semakin besar, karena ia tak
temukan jawaban selang beberapa hari, ia pun berniat untuk mencobanya sendiri,
“Kenapa sih
orang-orang dewasa mudah mengatakan kata-kata kotor (saru)? Gimana ya rasanya?”
fikirnya dalam hati
Pagi hari, disaat
Abib kecil sekolah tepat setelah bel berbunyi istirahat. Lalu, ia bermain
kejar-kejaran dengan teman sekelasnya, ya bermain kejar-kejaran. Maklumlah,
pula permainan itu paling asyik baginya. Manakala temannya jadi pengejar,
mereka pun berlari kencang, menyebar di daerah yang mereka telah sepakati.
Lari, lari, dan lari. Agar tidak tertangkap.
Dan, tiba-tiba tak
sengaja
“Brukk..” Abib
kecil dan temannya bertabrakan.
Agak marah Abib
kecil sedikit kesal,
“Kamu gimana sih,
AS*?” dan secara sengaja ia mengatakannya
Kagetlah 3
temannya yang mendengarkan kata itu, sedang yang lain tetap lari serta tak
peduli
“Hay bib..” ingat
temannya.
Abib kecil pun
hanya diam terpaku. Dan seketika ada perasaan aneh yang terkecap di lisannya,
pikiran, dan hatinya. Bukan mendapat jawaban malah menambah hal yang membuatnya
penasaran. Pertama, tata bertutur orang-orang dewasa dengan kata-kata kotor
(saru), kedua manakala ia coba langsung ada perasaan aneh lagi.
Tahun demi tahun
berlalu, dan sekarang Abib kecil telah tumbuh menjadi seorang remaja. Namun
semenjak kejadian hari itu, kelas 5 SD. Ia tak lupa akan kenangan aneh yang
pernah dilakukannya serta ia tak pernah melakukannya lagi. Seraya ia terus
mencari jawaban, yang belum ia temukan. Manakala ia belajar di pondok, barulah
ia mengerti mengapa?
(Hadits) Manakala
kebaikan membahagiakanmu, dan keburukan menyusahkanmu, kaulah orang yang
beriman (HR. Dhiya’ dari Abi Umamah)
Kini, Abib besar
telah tahu mengapa ia merasa aneh saat bertutur kata kotor jauh di tahun yang
lalu.
Begitulah kisah
Abib kecil dan Kata kotornya, dari kisah di atas dapat di ambil ibrah,
Ketika kita berbuat suatu hal,
apapun itu. Tanyalah kedalam hati. Apakah kebaikan yang telah saya lakukan
mendamaikan saya? Dan keburukan yang saya lakukan menyusahkan saya?
Ketika kita di rumah,
susahkah kita memarahi, membangkang ibu dan bapak? Saat di sekolah, susahkah
kita mendapat nilai bagus tapi hasil mencontek? Saat bapak bangun tengah malam,
susahkah anda meninggalkan shalat malam?, namun asyik menonton pertandingan
bola 2×45 menit, sedangkan shalat malam hanya sekitar 10 menit. Saat ibu, ngrasani
tetangga, susahkah anda?
Dan ini sering terjadi, ketika kita
membiarkan panggilan adzan, susahkah kita? Dengan kata tunggu ya, Saat kita
meninggalkan shalat, susahkah kita? Dan terakhir, Saat di majlis tarawih ini,
berbaris dalam shaf-shaf, menghidupkan malam bulan ramadhan yang indah,
bahagiakah kita? Atau mungkin lebih senang menonton GGS, CHSI?
Saat itu pulalah, tanyalah dalam
hati seberapa berat takaran iman kita. Adakah kebaikan mendamaikan, atau
menyusahkan? Syekh ibnu Atha’illah berkata:
Di antara tanda matinya hati adalah
tidak adanya perasaan bersalah atas dosa yang kau lakukan, dan perasaan
menyesal atas kesempatan beramal yang kau lewatkan.
Sekian sekelumit kisah yang bisa
saya sampaikan, semoga dengannya kita menjadi pribadi yang beriman, di bulan
ramadhan yang tercurah rahmat dan ampunan.
Gemericik riaknya alpha, terbasahi
istighfar dan shalawat.