Gerhana: Fenomena atau Euforia (Sebuah catatan 5 Maret pukul 16:53)

Digadang menjadi fenomena langka dekade ini, beberapa wilayah Indonesia seperti mentawai, palembang, bangka belitung, dll akan menyaksikan gerhana matahari total. | Sedangkan, daerah lain seperti Jawa Tengah, khususnya Semarang kemungkinan hanya dapat melihat gerhana penuh, berkisar 80%. | Ahli Falak Bondet, Mr.Bean mengungkapkan: Gerhana muncul pada tanggal 09 Maret 2016 sekitar jam 06:24-08.25 WIB. Puncaknya pada 07.24 WIB dalam rentang waktu 5 menit. | Sejarah mencatat Indonesia pernah dilalui gerhana pada masa orba, namun kegaduhan politik menyebabkan propaganda keliru bahwa gerhana berstatus bahaya. | Memang benar,imbuh Mr.Bean, paparan cahaya mendadak saat bulan bergeser yg menandakan berakhirnya gerhana amat beresiko, intensitas cahaya besar yg diterima pupil secara mendadak bisa berakibat fatal, krn pembesaran pupil saat gerhana matahari (gelap-red) akan merusak mata ketika cahaya matahari tiba-tiba bersinar. | Hal ini dpt disiasati dg memakai kaca mata anti-radiasi. Jadi, gerhana berbahaya bkn dlm konteks proses gerhana selama 5 menit tersebut. | Melainkan, paparan cahaya mendadak saat pergeseran bulan pada matahari. | Euforia gerhana disikapi berbeda-beda. Pihak pariwisita memanfaatkannya sebagai ladang bisnis menjanjikan, tempat-tempat yg dilewati gerhana pun disiapkan dg apik. Para peneliti antariksa melihatnya sebagai inspirasi riset&pembuktian hipotesis-hipotesis yg telah digelutinya. Sedangkan kebanyakan orang menganggapnya fenomena alam luar biasa, patut disaksikan serta sayang untuk dilewatkan. | Selanjutnya, Mursyid Thoriqoh (Dholalah-red) Bondetiyyah, Syekh Irfan Addimaqiy menghimbau para jama'ah, kaum muslim yg terbiasa molor pagi hari utk menunaikan shalat gerhana. Tentang tata cara, syarat&rukun, beliau berujar:"cek google wahai anak muda !" | Ia menambahkan, gerhana adl nikmat besar dari Allah SWT, jangan sia-siakan momen berharga sepersekian menit tersebut dalam lelap, amatlah merugi. | Gerhana mengajarkan kita tentang kenikmatan&kesengsaraan di dunia hanyalah sementara, maka hargailah dg ibadah tekun serta tawakkal penuh pada sang pencipta. | Kenikmatan kita berupa hidup berkecukupan dpt makan&minum enak, ngobrol hangat, ngegame COC, nonton film aksi, melo korea, humor thailand serta anime hen*ai jepang (ily** detected) adl nikmat yg sementara. | Ibarat makan, rasa sebuah hidangan hanya akan terasa saat di mulut, tak lebih. Begitupun, kesusahan dan kesedihan terjadi hanya sementara, bukankah kegelapan sebuah gerhana hanya berkisar beberapa menit. ~~~~~ Maka tenanglah dan mendekatlah pada Allah. * Ustadz

Titik Koma

Apakah dunia pantas utk ditertawakan? Saat air mata menetes krn kelaparan, saat darah mengalir akibat perang. Apakah dunia patut utk dilucukan? Ketika jantung terhunus pedang, ketika anak-anak terlantar akibat perseteruan. Ah, dunia memang panggung sandiwara. Sang dalang memang-semestinya, seenaknya saja memainkan wayang. Dunia-Memang begitulah adanya, makanya 'pencitraan' itulah yg aku gunakan.

TBI KeCe '12: A Warm Hug to You

-What's up guys/pal/dude/pren? -What are you doing right now? | Going around the neighbors and teachers' house, having a warm chit-chat with the family, taking a selfie with nieces, nephews and children, preparing the registration file for Postgraduate program (S2), or even set up a 'new status' in the relationship soon? | There was 4 years left behind, we stuck together. From the 'poker-face' of the freshman (MaBa), We introduced, grew up and became familiar. | It was the 1st semester in which the lecture was quite slow cause there was no paper at all, the 2nd semester-there was an intro-linguistics burdened compulsory reading, then legendary online class in next semester-Indeed, cheating is as a matter of habit. Thus, the dress-code of micro teaching, the internship teacher practice of PPL and the wonderful of KKN. Subject by subject we passed it by struggle and hard-work. Even the tears and sweats fell down for the 'deadly' final exam:Kompre&Munaqosah-of the some of you. | 4 years was not a short time though our meeting was brief. Intensely, we've ever been through together. | We, shared the joyful of getting A and the sadness of re-taking a lecture, slept in the class, came late to the class, had fun question and answer discussion, cheated (again) in the daviqr.com, had a dozens Mid-term&Final Test we did well (Lulus/'Lolos'), watched movies, sang a song together in the listening class, had a lot of assignments and papers. Those were an incredible memories that we've spent together. | We may have separated, cause we have a vision and a life of its own. We may not be able to see each other. But the time we ever live together implies not to forget a friends. Let's help each other to face the reality of life. | Let's greet each other to strengthen a friendship. | In this Idul Fitri. I convey an apologies if in 4 years of college we stuck together there was a mistakes, error and oversight which seen or unseen. There was a wound that I ever wrote in your hearts. There was inconvenience you've ever tasted. | Forgive me became quiet person. Forgive me if you ever gave me the responsibilities I can not do that well. I'm sorry I can not go to your home one by one to apologize-in which, i do not know many of your house, almost all. | Then, Congratulationsto you guys who have graduated. @Ajib, Yudha, Mameha, Ratna, Nur hex, Nabila, Zumi, Zuni, Nadhif, Uli, etc. | Hopefully the knowledge you got from the college could be useful and blessing (Barokah&Manfaat). Amin. Hopefully the science you got could be a way to serve the religion and society. Amin. And who desire further to continue the study, may Allah give you a pathway. Amin. | For those of you who have not passed through (Incidentally, I have not ). Let's fight together and help each other. PBI9C was ready to accept an old-students. | Thanks for the time we've been through together. ~~~~~ Happy 'Ied Fithri. Minal Aidzin Wal Faizin. | Forgive me of the mistakes I did which seen or unseen. #‎ TBIKeCe‬'12:N*fi-Lover!! (Censored)

Mengenal Diri: Konsep diri ala Pak Subhan Vs Jackie Chan

Siapa saya? Who am I? | Dua kata tersebut agaknya sederhana dan pertanyaan standar bagi sebagian orang, tetapi bagiku pertanyaan diatas sarat makna dan penuh dinamika internal psikologi dan filsafat | Pertanyaan yg muncul sebagai hasil pengembaraan intelektualitas dan spiritualitas. Sebuah keresahan hati mempertanyakan eksistensi diri sendiri yg ikut menjadi bagian dari dunia dan alam semesta | Aku punya cerita tersendiri mengenai dua kalimat itu. ¤ Pertama, Siapa saya? adalah pertanyaan teoritis dari Pak Subkhan-Guru BK&KepSek MA Nurul Islam Jepara- beliau mengajarkan dasar-dasar psikologi analisis yg saat itu dikenal dg BK (Bimbingan Konseling). Sebenarnya BK bukan pelajaran inti sekolah, tetapi peran BK dlm membimbing dan mengembangkan pola pikir siswa menjadikan BK mata pelajaran tambahan yg memiliki akar kuat di hati para siswa-siswi | Beliau berujar- sekitar 5 tahun yg lalu-bahwa kita perlu mengenal diri agar tak tersesat dan dapat memposisikan peran yg tepat di hidup kita. Dalam keseharian kita, kita memiliki status diri seperti sebagai anak, murid, pengendara, pejalan kaki, remaja, konsumen, pendengar, makmum, dll | Apa yg kalian lakukan ketika berada di posisi tersebut? Ya, berperan dg tepat. Sebagai anak, kita berbakti pada orang tua. Sebagai murid, kita belajar rajin dan mematuhi guru. Sebagai pengendara, kita taat regulasi dan norma-norma di jalanan. Sebagai pejalan kaki, kita melaju di tempat yg seharusnya dan beretika. Dan lain sebagainya | Beliau melanjutkan, kita hidup perlu mengenal diri agar memahami apa orientasi hidup. Hidup? Bagaimana menurut kalian, menghabiskan waktu? Berbagagia? Berfoya-foya? Berprestasi? Masuk syurga? | Segera kenali diri kalian dan temukan orientasi hidup kalian ! ¤ Cerita kedua, Who Am I? adl Film, ya film jadul yg mengisahkan tokoh utama-Jackie Chan, sebagai seorang elit militer diberikan misi di tengah hutan Afrika untuk 'mengamankan' 3 Ilmuwan yg disinyalir bersindikat dg organisasi kriminal internasional. Misi berhasil, mereka-regu penyalamat Ilmuwan- pulang dg helikopter dg suka-cita, berkenalan dg bangga dari berbagai negara. Di tengah perjalanan, helikopter oleng dan menewaskan seluruh penumpang kecuali Jackie Chan. Karena sebelum helikopter tumbang, Jackie Chan diselamatkan teman-temannya dan nyawanya tertolong dg tergantung di pohon. Sayangnya dia amnesia, lupa jati diri, siapa sebenarnya dia dan bagaimana bisa sampai di Afrika | Cerita berlanjut seru dan menegangkan, pertarungan epik tanpa stunt-man patut diacungi jembol ditambah skenario keren | Bukan, ini bukan resensi film. Tetapi, film tersebut mengajarkan satu hal penting mengenai jati diri, siapa kita? dg mencari dan mencari tentang jati diri kita sebenarnya, pastinya itu takkan mudah. ~~~~~ Begitulah, kita memang perlu mengenal diri dalam rangka mengetahui untuk apa dan bagaimana kita hidup di dunia. Pertanyaan yg amat sederhana tapi melahirkan kompleksitas pemahaman dan sudut pandang beraneka. Pertanyaan yg sama diutarakan para filsuf ternama: Aristoteles, Plato, Rene Descartes ini perlu direnungkan | Siapa saya? Mengapa saya ada? Bagaimana saya ada? Untuk apa? | Mari mengenal diri ! ^_^

Arabisasi Nusantara?

Mengkloning Gerakan Perempuan Berkebaya (Sumanto Al Qurtuby) Gelombang arabisasi yang dibungkus Islamisasi di Indonesia sejak beberapa tahun silam telah berdampak pada banyak hal antara lain pandangan mengenai "tata busana". Baru beberapa tahun ini saja, umat Islam pada geger bin ribut soal tata cara berpakaian yang "Islami" atau yang "syar'i". Padahal, dulu tidak ada yang meributkan. Biasa-biasa saja. Para ulama hebat di Indonesia dulu tidak pernah meributkan soal "busana Islami" apalagi "hijab syar'i". Kenapa begitu? Karena memang mereka menganggap semua itu tidak penting dan tidak substansial. Yang penting dan substansial, menurut mereka, adalah menutup aurat. Baru belakangan ini saja, setelah munculnya para ustad unyu-unyu itu, masalah "tata busana Islami/syar'i" ini menjadi marak diperbincangkan. Sebagian kaum Muslim pun, baik laki maupun perempuan, ramai-ramai ikut-ikutan mengenakan "hijab syar'i" dan "pakaian Nabi". Tidak sebatas itu saja. Mereka bahkan mengolok-olok semua jenis busana tradisional atau pakaian adat Nusantara warisan leluhur yang mereka anggap "tidak Islami", "tidak syar'i", "tidak surgawi" dan seterusnya. Didorong oleh rasa keprihatinan mendalam khususnya atas maraknya gerakan "hijabisasi masyarakat" inilah, sekelompok perempuan di Jogja "mendeklarasikan" sebuah aksi atau gerakan "Perempuan Berkebaya" yang kini bukan hanya di Jogja saja tetapi juga di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jawa. Mereka bukan hanya berwacana tetapi juga berkebaya kemana-mana di tempat-tempat publik sehingga menarik perhatian banyak pihak. Memang agak aneh sebetulnya jika ada orang merasa aneh dengan warisan tradisi dan budayanya sendiri. Tapi itulah sebagian fakta sosial di masyarakat kita. Karena hijab dan jubah sudah menjadi semacam "industri agama" yang berskala transnasional dan ditopang oleh berbagai kelompok lapisan masyarakat yang berkepentingan:politisi, dai, birokrat, pengusaha pakaian, dlsb, maka berbagai jenis pakaian adat-tradisional yang berskala lokal menjadi terancam eksistensinya. Ibaratnya, pakaian adat-tradisional itu seperti "home industry" yang sedang menghadapi gempuran hijab dan jubah sebagai "multinational corporation". Dalam konteks inilah, gerakan "Perempuan Berkebaya Jogja" hadir yang bukan hanya sebagai "kritik wacana" atau "kritik sosial" atau "perlawanan budaya" semata atas "hegemoni hijab" atau dominasi "pakaian Arab", melainkan sebagai bagian dari upaya untuk "mengingatkan publik" agar mau merawat atau melestarikan warisan tradisi dan kebudayaannya sendiri. Sebuah usaha yang tentu saja patut diapresiasi. Jika tidak diingatkan dan diantisipasi sejak dini, maka generasi yang akan datang akan menganggap "antik" dengan pakaian adatnya sendiri. Apa yang telah dilakukan oleh kelompok "Perempuan Berkebaya Jogja" ini tentu saja perlu "dikloning" oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Perlu ada gerakan-gerakanserupa sesuai dengan pakaian adat-tradisional masing-masing daerah: baju bodo di Bugis, baju cele di Maluku, nggembe di Sulawesi Tengah, sarung sutra mandar di Sulawesi Barat, pesa'an di Madura, ulos di Sumatra Utara dan seterusnya. Di Arab Saudi sendiri, pakaian-pakaianadat-tradisional khas masing-masing suku yang beraneka ragam mulai punah digerus oleh "pakaian Barat" maupun "pakaian Saudi". Jangan sampai hal itu terjadi di negara Indonesia yang kita cintai... ----- Nusantara tetaplah nusantara. Indonesia bukan Arab atau Timur Tengah sana. Berdalih agama mereka utarakan. Hal normatif dan substansial dilupakan.

Dialog Sepi

Entah aku memulai darimana dan mengakhirinya dimana. Baru saja ku mulai melangkah. Mengapa risau harus berpisah. --- Bagaimana kabarmu diariku? Lama tak bersua, kau nampaknya baik-baik saja. Yah, kau memang baik-baik saja, meski aku sama sekali tak mengunjungi, singgah, melepas penat, bercerita lagi. Kau tetap diam dlm pemprogaman default-mu. Diam, menunggu, sendiri, sesekali ada yg membaca lalu pergi. --- "Bagaimana kabarku?" Apa kau tanya seperti itu. Ah, aku merasa malu. Bahkan kamu yg tak pernah ku tenggok masih ingin tahu kabarku. "Aku baik-baik saja." Begitulah jawaban klisenya. Tapi agaknya bukan seperti itu yg kamu mau. "Kau ingin aku bercerita? Membebaskan imajinasiku?" Kalau itu yg kau mau. Bersiaplah aku akan maju. --- Sayang sekali memang, jika imajinasi kreatif aku pendam dan biarkan tenggelam tanpa bekas berupa 'catatan'. Bukankah catatan adl sejarah kehidupan? Bukankah catatan adl bukti kehadiran kita di dunia? Yah, berdialog dg sepi memang mengasyikkan. Selamat malam.

Kembali !

Rangkaian kata tulisan-tulisan itu rasanya mengoyak kembali imajinasiku. Mengenai goresan tinta. Tentang dunia dan semesta yg aku tinggalkan berdebu. - Bergelantung sarang laba-laba, tanpa pernah menengok lagi bagaimana kabar ruang itu? Sepetak kamar yg ku beri nama 'kamar cerita'. - Dulu, dulu sekali, kau ku singgahi tiap hari. Memeluk duka, membebaskan penderitaan, tertawa seenaknya, membunuh sepi, menikam diri sendiri. - Hahaha itulah aku yg punya segudang cerita, meski tempat itu ku beri 'kamar cerita'. - Tak penting terminologi ukuran, yang ku tahu disana terdapat atmosfer beraneka yg perlu ku tulis ulang. Kembali sesekali singgah, ke tempat dimana aku bisa bebas sebebasnya. - Berpikir, menulis. Mengarang, bercerita. Ah sudahlah, tak perlu banyak berdialektika, awali dg menulis blog usang itu. englishluthfiy. blogspot.com - Biarkan imajinasimu liar, mengelana entah sampai kapan ia akan pulang. - Menulislah !! ‪#‎ MonologSepi‬

- Copyright © The Pieces of My Life - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -